Feeds:
Posts
Comments

A. SEJARAH

pakualaman yogyaPAKUALAMAN: SATU DARI EMPAT PROJO KEJAWEN

Kadipaten Pakualaman adalah salah satu dari empat Kerajaan Jawa (Praja Kejawen) yang tetap eksis sampai pada hari ini. Keempat kerajaan itu sama-sama berasal dari sebuah kerajaan yang pernah berjaya di hampir seantero pulau Jawa dan sebagian Kalimantan, yaitu Mataram Islam. Mataram yang didirikan oleh Panembahan Senopati (1575-1601) itu mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645).

Kasultanan Jogja dan Kasunanan Solo

Pada masa pemerintahan Paku Buwono II (1727-1749), Mataram berhasil dikuasai VOC (Belanda) Dengan Perjanjian Ponorogo pada tahun 1743, Belanda berhak atas daerah-daerah pelayaran dan perdagangan yang semula dikuasai Mataram. Kecuali itu, sistem pemerintahan Mataram (pengangkatan dan pemberhentian pepatih dalem dan para bupati) dikendalikan oleh Belanda. Sejak 11 Desember 1749, Mataram tidak lagi berdaulat secara de jure dan de facto karena PB II menyerahkan kedaulatannya kepada Belanda.

Namun, meruntuhkan Mataram tidak semudah membalikkan tangan. Seorang pangeran bernama Mangkubumi tidak terima dengan penyerahan kedaulatan dan sikap lemah PB II itu. Pada tanggal 19 Mei 1746, Pangeran Mangkubumi  meninggalkan istana bersama 3 pangeran lainnya (P. Wijil, P. Krapyak, dan P. Hadiwijoyo). Mereka bergabung dengan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) untuk berperang melawan Belanda dan memberontak. Pangeran Mangkubumi dan kelompoknya berhasil merebut kembali Mataram dari kekuasaan Belanda. Pada tahun 1750, mereka mengepung ibukota Mataram dari 4 penjuru. Sampai pada tahun 1752, sebagian besar wilayah Mataram berhasil mereka kuasai.

Keberhasilan perjuangan Pangeran Mangkubumi itu menghasilkan sebuah perjanjian politik yang membuka lembaran baru sejarah Mataram. Pada tanggal 23 September 1754, Belanda bernegoisasi dengan P. Mangkubumi dan berjanji untuk memberi setengah dari kerajaan Mataram. Akhirnya, dibuatlah Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) yang merupakan kesepakatan bersama antara P. Magkubumi, Paku Buwono III (pengganti Paku Buwono II) dan Pemerintah Belanda (Gubernur Hartingh). Perjanjian Giyanti berisi ketetapan bahwa kerajaan Mataram dibagi menjadi dua. Setengahnya, yaitu Kasultanan Yogyakarta diberikan kepada P. Mangkubumi. Setengahnya lagi, yaitu Kasunanan Surakarta diberikan kepada Paku Buwono III. Dengan demikian Perjanjian Giyanti merupakan titik awal berdirinya kerajaan Kasultanan Yogyakarta (Ngayogyokarto Hadiningrat) dan Kasunanan Surakarta. P. Mangkubumi pun naik tahta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Pakualaman Jogja dan Mangkunegaran Solo

Dinamika politik dan perjuangan melawan penjajah memunculkan kerajaan baru bernama Mangkunegaran. Pada tanggal 17 Maret 1757, ditandatanganilah perjanjian damai (Perjanjian Salatiga) antara Mas Said, Sri Sultan Hamengku Buwono I, dan Belanda. Berdasarkan perjanjian itu, Mas Said mendapatkan sebagian daerah Surakarta serta berhak menguasainya dengan gelar Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro. Dengan demikian, di Solo terdapat dua kerajaan, yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran.

Sementara itu, ketika Inggris mengambil alih kekuasaan penjajah Belanda, lahirlah sebuah kerajaan baru di Jogjakarta, yaitu Kadipaten Pakualaman. Saat itu, Gubernur Jenderal Raffles menilai bahwa Sri Sultan HB II dan Sunan Solo tidak mentaati Perjanjian Tuntang. Karena itu, Sultan HB II dipaksa oleh Raffles untuk turun tahta. Kemudian, Raffles mengangkat Sri Sultan HB III dengan mengurangi daerah kekuasaan Kasultanan Jogjakarta. Sebagian dari wilayah kekuasaan Kasultanan diberikan kepada Pangeran Notokusumo yang adalah saudara dari Sri Sultan HB III. Daerah otonom ini – sebagian di dalam kota dan sebagian di daerah selatan Jogja (Adikarto) – menjadi sebuah Kadipaten baru yang dikuasai dan dipimpin oleh Pangeran Notokusumo tersebut. Pada tanggal 17 Maret 1813, Pangeran Notokusumo mengukuhkan tahtanya dan bergelar Pangeran Adipati Paku Alam I.

Meskipun bagi penjajah merupakan bagian dari politik devide et impera, munculnya Kadipaten Pakualaman bagi kerabat keraton Jogjakarta tidak dipandang sebagai sebuah perpecahan. Komitmen untuk tetap memegang visi kesatuan itu terbukti kelak di kemudian hari. Pada masa pemerintahan Paku Alam VIII, khususnya pada jaman pendudukan Jepang, terjadi reunifikasi antara Pakualaman dan Kasultanan. Hal itulah yang mengantarkan Sri Sultan HB IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII tampil menjadi dwi tunggal pemimpin yang berdampak secara regional dan nasional.

Advertisements

B. PAKU ALAM

PAKU ALAM: BUPATI MARDIKA

Setelah naik tahta pada tahun 1813, Pangeran Notokusumo yang adalah putra dari Sri Sultan HB I memakai gelar Pangeran Adipati Paku Alam I. Sejak itu, dimulailah pemerintahan Pakualaman sebagai sebuah kerajaan yang bersifat otonom: mempunyai kedaulatan, wilayah kekuasaan, rakyat, simbol-simbol, dan bahkan sempat memiliki kekuatan militer tersendiri (pada era Paku Alam V). Paku Alam disebut Adipati karena adalah seorang Bupati Mardika (raja yang otonom). Kadipaten Pakualaman telah turut mengukir sejarah lintas generasi….

Pangeran Notokusumo / Pangeran Adipati Paku Alam I (1813-1829)

Pendiri wangsa Pakualaman yang lahir pada tahun 1760 ini adalah peletak dasar kebudayaan Jawa dalam Kadipaten Pakualaman. Kepada para putra sentana, PA I memberi pelajaran sains dan tata negara. Beberapa karya sastranya adalah: Kitab Kyai Sujarah Darma Sujayeng Resmi (syair), Serat Jati Pustaka (sastra suci), Serat Rama (etika), dan Serat Piwulang (etika). Ia wafat pada tanggal 19 Desember 1829.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam II (1829-1858)

Pengembang kebudayaan yang lahir pada tanggal 25 Juni 1786 ini berhasil membuat Pakualaman dikenal sebagai pusat kesenian. Saat itu, musik dan drama modern juga diadopsi oleh Pakualaman. Disamping menulis Serat Barata Yuda, PA II juga turut menulis Serat Dewaruci bersama ayahnya (PA I). Ia wafat pada tanggal 23 Juli 1858.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam III (1858-1864)

PA III yang bergelar ”Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Surya Sasraningrat I” ini adalah seorang pujangga besar. Tiga karyanya yang penting adalah: Serat Darma Wirayat, Serat Piwulang, dan Serat Abiya Yusup. Ia lahir pada tanggal 19 Desember 1858 dan wafat pada tanggal 17 Oktober 1864.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam IV (1864-1878)

Ia dilahirkan pada tanggal 25 Oktober 1851 dan bergelar ”Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Surya Sasraningrat II”. PA IV menaruh minat pada pendidikan dan kesenian (tari dan wayang). Ia mengirim para abdi dalem ke Solo untuk belajar di sekolah guru dan ke Jakarta untuk belajar di sekolah keperawatan. Ia menciptakan tarian beksan Floret (tarian dengan pedang) dan beksan Schermen (stilisasi tari-tarian Eropa). Ia juga merenovasi Bangsal Sewotomo yang rusak karena bencana gempa bumi besar yang terjadi pada tahun 1864. Ia wafat pada tanggal 24 September 1878.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam V (1878-1900)

PA V yang lahir pada tanggal 23 Juni 1833 ini mempunyai beberapa gelar. Pertama-tama, ia bergelar K.P.H. Suryadilaga. Sejak tanggal 20 Maret 1878, ia bergelar Gusti Pangeran Suryadilaga. Sejak tanggal 10 Oktober 1878, ia naik tahta dan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam V. Ia adalah pelopor modernisasi di lingkungan kerabat Pakualaman. Pertama, ia meningkatkan taraf pendidikan dengan menyekolahkan kerabat Pakualaman ke Sekolah Belanda. Kedua, ia mereformasi sistem ekonomi Pakualaman. Ketiga, ia mengembangkan sistem keamanan Pakualaman dengan membuat sebuah legiun. Pada tanggal 20 Maret 1882, ia mendapat pangkat Kolonel dan memperoleh bintang Ridderkruis van den Nederlandschen Leeuw. Keempat, ia memodifikasi cerita-cerita tradisional untuk pementasan musik drama. Ia wafat pada tanggal 6 November 1900.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam VI (1901-1902)

Ia lahir pada tanggal 9 April 1856 dan naik tahta pada tanggal 11 April 1901. Sayang, ia tidak lama memerintah karena menderita sakit dan akhirnya mangkat pada tanggal 19 Juni 1902. Selanjutnya, sampai pada tanggal 17 Desember 1906, pemerintahan Kadipaten Pakualaman ditangani oleh Raad Van Beheer over de Pakoe-Alamsche Zeken yang diketuai oleh Redisen R.J. Couperus. Dalam keseharian, pemerintahan itu dijalankan oleh tim yang terdiri dari K.P.H. Sasraningrat, K.P.H. Natadiraja, P.H. van der Moore, dan Asisten Residen Kulon Progo.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam VII (1906-1937)

Ia lahir pada tanggal 9 Desember 1882 dan naik tahta pada tanggal 17 Desember 1906 dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Suryadilaga. Sejak 1921, ia bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam VII. Pemimpin yang cerdas, rajin, maju, terbuka, dan humanis ini sangat memperhatikan pembangunan modern. Ia  memajukan daerah Kulon Progo dengan membangun jembatan, bendungan, pasar-pasar, sekolah-sekolah, irigasi, rumah dinas, pabrik gula (di Sewugalur), dan kebun bibit. Untuk memajukan perekonomian rakyat, ia membangun Bank Kelurahan yang menolong masyarakat bawah dalam hal permodalan. Dalam bidang pendidikan, ia menjadi ketua perkumpulan amal Pengajaran Neutrale Onderwijs Stichting. Ia wafat pada tanggal 16 Februari 1937.

C. PURA PAKUALAMAN

KRATON ITU BERNAMA PURA PAKUALAMAN

Eksistensi sebuah kerajaan terlihat secara kasat mata dari keraton yang dimilikinya. Beteng kokoh sekeliling istana menyekat dan membedakan mana area bangsawan dan mana area rakyat jelata. Biasanya, arsitektur dan kemegahan bangunannya menunjukkan keangkeran dan keangkuhan feodalistis sang raja dan kerabatnya.

Sampai pada era Paku Alam V (1878-1900), keadaan istana masih sederhana. Lampu penerangan yang digunakan adalah lampu-lampu gantung minyak tanah dan lampu-lampu kecil minyak kelapa bersumbu kapas. Istana Pakualaman juga pernah mengalami kerusakan hebat setelah terjadi gempa bumi dahsyat di Jogjakarta pada tahun 1864. Meskipun demikian, Pura Pakualaman tetaplah sebuah keraton yang megah di mata rakyat jelata.

Sederhana Namun Penuh Makna

Kesan yang terpancar dari Pura Pakualaman adalah: sederhana, penuh makna, terbuka, dan modern. Atap gaya kampung srotong pada pintu masuk menunjukkan kesederhanaan. Simbol-simbol yang dipakai menunjukkan bahwa kehidupan istana itu sarat dengan makna. Arsitektur modern yang diterapkan tanpa menghilangkan kesan tradisional menunjukkan sifat keterbukaan. Beberapa bangunan penting di Pura Pakualaman adalah….

Gapura (Pintu Masuk)

Gapura ini memuat tulisan Ing Dana Wara yang berarti “modal”. Terdapat pula ukiran kata-kata sengkalan: Wiwara Kusuma Winayang Reka yang berarti “pintu yang terungkap dalam wujud cipta”. Maksud dari semua ini adalah, kawasan Pura Pakualaman merupakan zona kehidupan yang memiliki kedalaman pemikiran filosofis. Tindakan memasuki kawasan itu merupakan modal awal menuju ranah pemikiran yang mendalam. Di seputar gapura terdapat kata-kata Engeta Angga Pribadi. Artinya, sebelum memasuki dunia pemikiran, manusia harus mawas diri. Tertoreh pula kata-kata Guna Titi Turun (kemampuan, kecermatan, kehendak). Hal itu menunjukkan bahwa Pura Pakualaman adalah kawasan dengan etos kerja tinggi serta pemikiran yang rasional.

Lonceng

Dulu, terdapat lonceng sebagai penanda waktu. Hal itu menunjukkan sikap menghargai waktu untuk bekerja dan beribadah kepada Tuhan.

Bangsal Sewatama

Ini adalah bangunan induk Puro Pakualaman. Atapnya tidak berbentuk joglo tetapi limasan. Di bagian belakang bangsal ini terdapat empat saka guru lengkap dengan ulegnya.

Ndalem Ageng Prabasuyasa

Ini adalah sebutan untuk seluruh bangunan terpenting yang terdapat di belakang Bangsal Sewatama. Salah sebuah ruangan di dalamnya dipakai untuk menyimpan pusaka-pusaka yang dikeramatkan.

Parangkarsa

Ini adalah bangunan yang berfungsi untuk mengadakan hajat keluarga seperti pertemuan, pesta, dan perkawinan.

Gedhong Purwaretna

Bangunan yang terletak di sebelah kiri Bangsal Sewatama itu berdiri megah dengan behiaskan ukiran krawangan (ukiran tembus pandang). Keberadaan bangunan berarsitektur Barat ini merupakan cerminan jiwa pimpinan wangsa Pakualaman dalam menanggapi datangnya pengaruh modern pada awal abad 20.

Bangsal Sewarengga

Bangunan terbuka berbentuk joglo ini bersifat sakral. Di atas jalan masuk dari sebelah barat terdapat tulisan Sri Teka. Di atas jalan masuk dari sebelah timur terdapat tulisan Sri Ana. Hal itu menunjukkan aspirasi terhadap nilai-nilai kesuburan yang berkaitan dengan mitos Dewi Sri (dewi kesuburan).

Masjid

Di luar kompleks Puro, tepatnya di sudut barat laut alun-alun Sewandanan, terdapat sebuah Masjid. Pada prasasti di sebelah utara tertoreh sengkalan: Pandhita Obah Sabda Tunggal yang menunjukkan tahun Jawa 1767 (1839 Masehi). Namun, pada prasasti di sebelah selatan tertoreh sengkalan: Gunaning Pujangga Sapta Tunggal yang menunjukkan tahun Jawa 1783 (1855 Masehi). Sampai sekarang masih diperdebatkan, tahun mana yang merupakan tahun pendirian Masjid tersebut.

Kerata Kencana

Puro Pakualaman sudah memiliki alat transportasi mewah pada jamannya. Salah sebuah kereta kencana yang dimiliki Pakualaman adalah pemberian Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814.

D. WILAYAH

KADIPATEN PAKUALAMAN

Sebagai sebuah Kadipaten, Pakualaman mempunyai wilayah kekuasaan tersendiri. Daerah kekuasaan itu mencakup sebuah wilayah di dalam kota Jogjakarta dan wilayah-wilayah ”Adikarto” yang berada di daerah selatan Kulon Progo (Kapanewon, Temon, Wates, Panjatan, Galur, dan Lendah).

Setelah Kemerdekaan RI 1945, keberadaan Kadipaten Adikarto masih diakui oleh Pemerintah RI. Berdasarkan Undang-undang No. 15 tahun 1950 tentang Pembentukan Kabupaten dalam lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1950, daerah sebelah barat sungai Progo dibagi menjadi dua Kabupaten: (1) Kabupaten Kulon Progo dengan ibukota Sentolo, (2) Kabupaten Adikarto dengan ibukota Wates.

Dalam perkembangannya kemudian, terjadi penggabungan. Berdasar Undang-undang No. 18 tahun 1951, kedua Kabupaten tersebut digabungkan menjadi satu dengan nama Kabupaten Kulon Progo. Sebelum penggabungan, Kabupaten Kulon Progo hanya terdiri dari 7 Kapanewon (Kecamatan). Setelah penggabungan, wilayahnya bertambah luas karena mencakup 12 Kapanewon (Kecamatan). Jadi, atas kebijaksanaan Paku Alam VIII, Kabupaten Adikarto menggabungkan diri dengan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lambang yang Menyiratkan Penggabungan itu….

Dalam lambang Kabupaten Kulon Progo tersirat bahwa pada Hari Kamis Wage, tanggal 17 Desember 1951, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII berkenan menyatukan Daerah Kabupaten Kulon Progo/Sentolo (yang merupakan milik Kasultanan) dan Daerah Kabupaten Adikarto (yang merupakan milik Pakualaman) menjadi satu daerah bernama Kabupaten Kulon Progo dengan ibukota Wates. Angka-angka penanggalan itu tersingkap dari items lambang sebagai berikut:

  • Tanggal 17 = batang padi yang berbuah 17 bulir
  • Bulan Desember (12) = batang kapas yang berbuah 12
  • Tahun 51 = enam helai daun, menunjukkan jumlah bilangan 5 + 1
  • Hari Kamis = delapan bunga panili
  • Hari pasaran Wage = empat buah daun panili

E. KERABAT

KELUARGA BESAR

Dalam konsep keraton, semakin banyak keturunan bangsawan berarti semakin baik. Salah sebuah keris pusaka kepunyaan Paku Alam VIII memiliki corak (pamor) berbentuk ”beras wutah” (biji beras tumpah). Beras wutah melambangkan putra-putri bangsawan. Semakin banyak biji, semakin baik. Di museum Puro Pakualaman disimpan gambar silsilah Pakualaman sepanjang 13 meter. Hal itu menunjukkan bagaimana wangsa Pakualaman telah berkembang menjadi sebuah kerabat yang besar.

Muncul Tokoh-tokoh Besar

Disamping Paku Alam itu sendiri, tokoh-tokoh besar muncul dari kaum bangsawan ini. Ki Hadjar Dewantoro (1899-1959) adalah tokoh pendidikan nasional yang berasal dari keluarga Pakualaman. Ayahnya adalah Soerjaningrat, putera dari Paku Alam III. Kakaknya yang bernama R.M. Soerjopranoto juga dikenal sebagai tokoh nasionalis yang peduli pada nasib rakyat kecil. Soerjopranoto yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pernah dipenjara (1923 dan 1933) karena aktifitasnya sebagai penggerak rakyat untuk melawan penjajah.

F. PUSAT BUDAYA

SISTEM KEBUDAYAAN

Kadipaten Pakualaman dengan Puronya itu merupakan salah satu mata air kebudayaan Jawa. Beragam hasil karya, rasa, dan cipta khas Jawa membual dari kawasan ini. Pakualaman merupakan sebuah pusat kebudayaan yang menjadi tiang penyangga bagi kelestarian hidup kebudayaan Jawa.

Berbagai unsur kebudayaan Jawa dikreasi, disemaikan, dan disebarluaskan melalui pusat kebudayaan ini. Kadipaten Pakualaman bukan hanya merupakan sistem sosial-politik, namun juga merupakan sistem kebudayaan yang kompleks.

Sistem Pengetahuan

Kedalaman kearifan para Paku Alam terungkap dari karya-karya sastra mereka. Wangsa Pakualaman juga sangat mengapresiasi pendidikan. Meskipun tidak sempat lama memerintah karena sakit dan kemudian meninggal, Paku Alam VI (1901-1902) dikenal sebagai raja yang bijaksana. Kerinduannya adalah memberi pendidikan modern Barat kepada para putra sentana, tanpa meninggalkan kearifan budaya Jawa. Dari trah Pakualaman ini juga lahir seorang pendidik berkaliber nasional, Ki Hadjar Dewantara.

Sistem Sosial

Di museum Puro Pakualaman terpajang gambar bagan silsilah keluarga Paku Alam dari generasi ke generasi. Silsilah yang divisualisasi dalam bentuk gambar pohon rindang itu terpaksa digulung sebagian mengingat panjangnya mencapai 13 meter. Gambar sistematika itu menunjukkan betapa keluarga besar Pakualaman tesusun rapi dalam sebuah sistem kekerabatan yang kompleks.

Bahasa

Bahasa menunjukkan bangsa. Kesantunan bahasa Jawa – lisan maupun tulisan – menunjukkan keunggulan kepribadian Jawa. Paku Alam VIII, menurut kesaksian Ir. K.P.H. Probokusumo, selalu berbicara dengan bahasa Jawa halus (krama inggil) kepada siapapun. Baik kepada Sultan maupun para abdi dalem dan petani, Paku Alam VIII selalu berkomunikasi dengan sangat santun.

Seni

Sebagai sebuah pusat kebudayaan, Pakualaman menghasilkan cukup banyak kreasi seni. Paku Alam III dikenal sebagai pujangga besar dengan Serat Piwulangnya. Pada era Paku Alam IV, beberapa kerabat berkiprah menjadi ahli-ahli penatah wayang seperti R.M. Pandji Sudjonopuro dan R. Andji Notoredjo. Beberapa tarian juga lahir di pusat kebudayaan ini.

Sistem Kepercayaan

Kehidupan religius di Puro Pakualaman diwarnai dengan beragam ritual sarat makna. Benda-benda pusaka bukan hanya dipercaya sebagai sesuatu yang sacred, namun juga sebagai wahana untuk mengkomunikasikan pesan-pesan filosofis. Laku spiritual dan kepekaan rohani merupakan gaya hidup yang ideal.

G. PRO RAKYAT

VISI & KOMITMEN KERAKYATAN

Biasanya, sebuah institusi tradisional cenderung mempertahankan status quo. Namun, tidak demikian dengan Kadipaten Pakualaman. Ketika roda pergerakan rakyat berputar semakin cepat, Kadipaten Pakualaman pun menunjukkan sikap progresifnya. Bahkan, ketika telah tiba waktunya, Kadipaten Pakualaman menjadi salah sebuah motor penggerak yang luar biasa. Hal itu membuat eksistensinya terus bertahan dan mendapat apresiasi dari rakyat.

Sifat transformatif Kadipaten Pakualaman ini disebabkan minimal oleh dua faktor. Pertama, faktor nilai-nilai yang dijadikan pedoman hidup. Sikap untuk selalu mawas diri (Engata Angga Pribadi) dan sikap untuk selalu cermat, memiliki cita-cita, dan berguna bagi orang lain (Guna Titi Turun) merupakan semboyan hidup yang penting. Kedua, faktor kearifan para pemimpin di Kadipaten Pakualaman juga berpengaruh sangat besar. Paku Alam VII misalnya, dikenal rajin, cerdas, maju, terbuka, dan berperikemanusiaan.

Paku Alam VII: Membangun untuk Kesejahteraan Rakyat

Pada era kepemimpinan Paku Alam VII, daerah Adikarto (wilayah Pakualaman di Kulon Progo) dibangun. Pada tahun 1924, Kadipaten Pakualaman membangun pasar-pasar, sekolah-sekolah, dan irigasi. Pada tahun 1925, jembatan dan bendungan juga dibangun. Selanjutnya, dikembangkan pula pabrik gula dan perkebunan. Untuk menolong perekonomian rakyat, didirikan Bank Kelurahan yang bergerak di dalam bidang permodalan.

Paku Alam VIII: Sosialisasi di Luar Tembok Kraton

Semangat, visi, dan komitmen kerakyatan dalam diri Paku Alam VIII sebenarnya sudah terinternalisasi sejak dirinya masih kanak-kanak. Mengapa kelak di kemudian hari ia selalu berbahasa Jawa halus (krama inggil) dengan orang kebanyakan? Karena, sejak kecil sudah biasa bergaul dengan kehidupan di luar tembok kraton.

Sejak masa kecil sampai masa mudanya, Paku Alam VIII yang lahir pada tanggal 10 April 1910 ini biasa bergaul dengan kawan-kawannya di luar istana. Ketika duduk di sekolah dasar (HIS), pemilik nama kecil Gusti Raden Mas Haryo Sularso Kuntosuratno ini biasa bermain sepak bola, jamuran, dakon, dan gobag sodor bersama teman-temanya dari kalangan rakyat biasa. Ia juga senang bermain gelutan (gulat) bersama mereka sambil berhujan-hujanan.

Saat remaja, ia semakin merakyat. Tanpa ragu ia terlibat sebagai pemain dalam kesebelasan Brawijaya. Namanya tidak kalah menonjol dibanding rekannya, Maladi yang terkenal itu. Kecuali itu, ia juga aktif dalam organisasi Jong Java. Minatnya pada kesenian, tradisional maupun modern, membuatnya semakin menyatu dengan rakyat. Ia pun bermain gitar, biola, dan bas untuk musik Hawaian dalam perkumpulan kesenian Mardi Budoyo.

Kecintaannya pada rakyat semakin kuat saat mulai menginjak dewasa. Ketika baru genap 2 tahun menuntut ilmu di Rechts Hogere School di Jakarta, ia dipanggil oleh ayahnya untuk pulang ke Jogja dan membantu pekerjaan di bidang pertanahan. Namun, ia memilih untuk bekerja di bidang agraria. Alasannya adalah supaya bisa bertatap muka dengan rakyat. Dengan pekerjaan itu, ia sering mendidik lurah-lurah dan carik-carik yang saat itu kebanyakan masih buta huruf.

Paku Alam IX dan Sidang Rakyat Jogjakarta

Kecintaan rakyat pada Kadipaten Pakualaman terbukti ketika mereka menginginkan Paku Alam IX untuk menjadi Wakil Gubernur DIY. Pada bulan Oktober 2001, sejumlah besar rakyat berkumpul di halaman gedung DPRD DIY. Dalam ”Sidang Rakyat Yogyakarta” yang digelar saat itu, mereka menyampaikan ”Maklumat Rakyat”. Pernyataan yang dibacakan oleh Noor Harish (Ketua DPRD Kulon Progo) itu berisi dua hal: (1) menetapkan Yogyakarta tetap sebagai Daerah Istimewa, (2) menetapkan dan mengangkat KGPAA Paku Alam IX sebagai Wakil Gubernur untuk mendampingi Gubernur DIY (Sri Sultan Hamengku Buwono X).

Dua Bupati turut mendukung aksi rakyat tersebut. Pertama adalah Bupati Bantul, Drs. H.M. Idham Samawi. Kedua adalah Bupati Kulon Progo, Toyo S. Dipo. Kepada wartawan, Toyo S. Dipo mengatakan bahwa dukungan itu sangat wajar karena selama bertahun-tahun rakyat Kulon Progo menerima banyak berkah dari Pakualaman. Banyak sekali tanah milik Pakualaman di Kulon Progo digunakan untuk kepentingan rakyat tanpa dikenai pungutan atau biaya sepeser pun.